Rabu, 07 Januari 2026

Secangkir Kopi Hitam

 


Pagi itu, Surya Kencana belum sepenuhnya terjaga, tapi denyutnya sudah terasa. Di sebuah toko roti yang hangat dan bersih, aku duduk di depan secangkir kopi hitam gula aren. Cangkirnya sederhana, warnanya lembut, kontras dengan isi kopi yang pekat dan jujur. Asap tipis naik perlahan, seolah ikut membawa semua kegundahan yang sejak tadi menyesakkan dada.

Aku memilih duduk menghadap jalan. Dari balik kaca, Surya Kencana menyajikan pertunjukan pagi yang tak pernah sama, namun selalu penuh cerita. Orang-orang lalu lalang dengan tujuan masing-masing—ada yang terburu-buru, ada yang santai, ada pula yang tampak pasrah pada rutinitas. Aku menyeruput kopi, pahitnya langsung menampar lidah, manis gula aren menyusul pelan, seperti hidup yang sering terasa keras di awal, lalu menyisakan harapan kecil di akhirnya.

Hati sedang meratap. Tentang kehidupan yang terasa tidak adil, tentang langkah yang seolah jalan di tempat, tentang usaha yang belum juga berbuah perkembangan. Di kepala, pertanyaan-pertanyaan berputar tanpa jawaban: “Kurang apa lagi?” “Sampai kapan seperti ini?” Kopi di tanganku tak menjawab, tapi setidaknya ia setia menemani.

Di dalam toko roti, para pelanggan datang silih berganti. Mereka berdiri di depan etalase, memilah roti dengan senyuman merekah. Tangannya menunjuk satu, dua, tiga jenis roti—tanpa ragu, tanpa tampak beban. Seolah harga hanyalah angka, bukan pertimbangan hidup. Seolah hari esok akan baik-baik saja. Aku memerhatikan mereka sambil kembali menyeruput kopi, lalu bertanya dalam hati, “Sedangkan aku?”

Tatapanku beralih ke luar. Jalan Surya Kencana kini semakin ramai. Seorang bapak mendorong gerobak dagangan dengan peluh di pelipis. Seorang pemulung menunduk, mengais botol plastik dengan kesabaran yang nyaris tak terdengar. Tukang jajanan melintas sambil menggendong jualannya, langkahnya pelan namun pasti. Mereka semua sedang berusaha—bukan untuk mimpi besar, tapi untuk bertahan hidup hari ini.

Di momen itu, hatiku seperti ditikam belati. Perih, tapi membuka mata. Rupanya, sekelumit rumit hidupku tak seberapa dibandingkan ratusan, bahkan ribuan orang di luar sana yang bangun setiap pagi dengan beban yang jauh lebih berat. Aku mungkin lelah karena tak maju, tapi mereka lelah karena harus terus berjalan agar tak jatuh.

Kopi hitam gula aren itu akhirnya habis. Pahitnya masih tertinggal, tapi kini terasa lebih jujur, lebih bisa diterima. Di antara hiruk pikuk Surya Kencana, aku belajar bahwa hidup memang tidak selalu adil, tapi selalu memberi alasan untuk bersyukur—jika kita mau melihat lebih luas.

Aku tersenyum kecil, menarik napas, dan berjanji pada diri sendiri untuk lebih lembut pada hidup. Karenar seperti kata Taylor Swift, “You’ve got no reason to be afraid, you’re on your own, kid — yeah, you can face this.”


Senin, 05 Januari 2026

Hanamasa: AYCE Tanpa Batas Waktu

 


Siang itu, langkah kakiku terhenti di depan Hanamasa Pajajaran Bogor. Matahari sedang terik, tapi rasa penasaran justru terasa lebih hangat. Jujur saja, ini adalah kali pertama aku datang ke Hanamasa. Sebuah nama yang sudah sering kudengar, tapi baru kali ini benar-benar ingin kucoba. Sebagai pecinta kuliner, seharusnya aku antusias. Namun ada satu hal yang membuatku ragu sejak awal: konsep All You Can Eat.

Aku bukan tipe orang yang menikmati makan dengan sistem waktu terbatas. Bagiku, makan adalah soal menikmati rasa, aroma, dan momen, bukan soal berpacu dengan jam. Pengalaman buruk pernah aku alami beberapa waktu lalu. Saat itu aku mencoba AYCE di salah satu mal, dengan durasi 90 menit. Alih-alih menikmati hidangan, aku justru sibuk melirik jam. Setiap suapan terasa seperti dikejar-kejar. Ketika makanan belum habis dan waktu hampir habis, aku terpaksa menambah durasi 30 menit dengan biaya tambahan. Pulang dari sana, perut kenyang tapi hati kurang senang. Sejak itu, aku sempat trauma dengan konsep AYCE.

Namun cerita berubah saat aku tahu satu hal tentang Hanamasa: tidak ada batasan waktu. Informasi sederhana itu cukup membuatku berhenti ragu. “Kalau begitu, kenapa tidak?” pikirku. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan trauma lama. Dan siang itu, aku melangkah masuk dengan ekspektasi yang biasa saja tanpa berharap terlalu tinggi.

Begitu duduk dan mulai melihat-lihat pilihan menu, pandanganku langsung berubah. Hanamasa menawarkan begitu banyak pilihan. Menu grill yakiniku-nya terasa sangat lengkap. Mulai dari daging segar dengan berbagai potongan, hingga daging olahan yang siap dipanggang. Aroma daging yang terbakar di atas grill perlahan memenuhi meja, menggugah selera tanpa perlu terburu-buru.

Tak hanya yakiniku, menu shabu-shabu di Hanamasa juga tak kalah menggoda. Pilihan daging segar, seafood, sayuran, hingga aneka jamur tersusun rapi. Rasanya menyenangkan bisa memilih sendiri bahan-bahan favorit, lalu menikmatinya perlahan dalam kuah hangat.

Ada pula menu robatayaki, sate-satean khas Jepang yang bisa dipesan langsung dan akan diantar ke meja. Tinggal duduk manis, lalu menikmati. Untuk pelengkap, tersedia berbagai side dish seperti ebi furai, takoyaki, dan aneka gorengan lainnya yang cocok jadi selingan di antara sesi grill dan shabu-shabu.

Yang membuatku semakin betah adalah pilihan salad yang lengkap dan segar. Buah-buahan juga tersedia dengan variasi yang tak kalah menarik. Untuk minuman, pilihannya beragam. Bahkan ada es campur yang bisa diracik sendiri, jajanan pasar, hingga puding sebagai penutup. Semua tersaji seperti mengajak kita menikmati makan tanpa aturan kaku.

Dan benar saja, makan di Hanamasa terasa santai. Tidak ada jam yang terus diawasi. Tidak ada rasa bersalah karena mengambil makanan terlalu lama. Semuanya mengalir apa adanya. Ditambah lagi, Hanamasa sudah tersertifikasi halal—sebuah nilai tambah yang membuatku semakin nyaman.

Sayangnya, kebahagiaan itu hanya tinggal kenangan. Beberapa bulan setelah kunjungan tersebut, kabar kurang menyenangkan datang. Hanamasa Pajajaran Bogor, satu-satunya cabang di Bogor harus menutup pintunya, menyusul cabang di Margo City Depok.

Meski sedih, aku memilih menyimpan harapan. Semoga Hanamasa tetap bertahan, terus menemani pecinta kuliner dengan konsep AYCE yang ramah dan menyenangkan, serta kembali membuka banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Karena bagiku, Hanamasa bukan sekadar tempat makan tapi tempat berdamai dengan trauma lama dan kembali menikmati makan tanpa terburu-buru.


Kulineran dengan View City Light Jakarta



Salah satu pengalaman kuliner yang selalu meninggalkan kesan adalah menikmati makanan di atas ketinggian. Ada sensasi berbeda ketika sepiring hidangan disantap sambil memandang hamparan city light Jakarta yang berkilauan. Dari atas, ibukota menampilkan sisi lain yang begitu memesona, gedung-gedung tinggi berdiri megah, jalanan membentang dengan barisan mobil yang melaju rapi, lampu kendaraan berpendar seperti garis cahaya yang hidup. Jakarta yang biasanya terasa sibuk, di ketinggian justru tampak cantik dan menenangkan.

Pengalaman inilah yang aku rasakan saat berkunjung ke Costess Resto and Bar. Berada di pusat kota Jakarta, tepatnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Costess menawarkan pengalaman bersantap yang bukan hanya soal rasa, tapi juga soal suasana. Lokasinya yang strategis membuat resto ini dikelilingi pemandangan gedung-gedung perkantoran dan apartemen yang menyala indah saat malam tiba. Dari sini, Jakarta terasa begitu hidup, namun tetap bisa dinikmati dengan cara yang santai.

Begitu malam datang, view dari Costess benar-benar mencuri perhatian. Lampu-lampu kota memantul dari kaca gedung pencakar langit, sementara di bawah sana, jalanan Jakarta terlihat seperti aliran cahaya dari lampu mobil yang berbaris rapi. Setiap kendaraan bergerak perlahan, menciptakan pemandangan yang dinamis dan estetik. Duduk sambil menikmati pemandangan ini rasanya seperti mengambil jeda sejenak dari rutinitas, memandang Jakarta dari sudut yang berbeda, lebih tenang, lebih cantik.

Tak hanya mengandalkan view, Costess Resto and Bar juga menawarkan beragam pilihan menu. Mulai dari hidangan tradisional hingga western food, semuanya dikemas dengan konsep modern. Aku pun memutuskan untuk mencoba Nasi Campur Costess, menu yang awalnya tidak terlalu aku ekspektasikan. Namun sejak suapan pertama, rasanya langsung mengejutkan.

Nasi campur ini disajikan dengan nasi yang pulen dan hangat, berpadu dengan berbagai lauk yang kaya rasa. Setiap elemen terasa digarap serius, bumbunya meresap, aromanya menggoda, dan rasanya seimbang. Gurihnya pas, rempahnya terasa, dan tidak ada rasa yang saling menutupi. Nasi campur ini bukan sekadar menu aman, tapi benar-benar menunjukkan kualitas dapur Costess. Jujur saja, aku tidak menyangka nasi campur di resto rooftop dengan view city light Jakarta bisa seenak ini.

Menu berikutnya adalah Beef Pizza. Dough pizzanya tipis dan dipanggang hingga crispy, memberikan tekstur renyah yang menyenangkan di setiap gigitan. Potongan beef di atasnya cukup melimpah dan terasa juicy, berpadu dengan saus dan keju yang meleleh sempurna. Kombinasi ini membuat pizzanya terasa spesial, ringan, namun tetap mengenyangkan.

Tak ketinggalan, Spaghetti Aglio Olio juga patut diapresiasi. Spaghettinya dimasak al dente, dengan aroma olive oil dan bawang putih yang harum. Rasanya gurih, ringan, dan bersih di lidah tidak berlebihan, justru membuat ingin terus menyuap. Menu ini terasa nyaman, cocok dinikmati sambil memandang gemerlap lampu kota dari ketinggian.

Jujur, aku tidak berekspektasi tinggi soal rasa ketika datang ke resto dengan view seindah ini. Namun Costess Resto and Bar membuktikan bahwa keindahan pemandangan dan kualitas rasa bisa berjalan seiring. Menikmati kuliner sambil memandang city light Jakarta, gedung-gedung tinggi, serta jalanan dengan barisan mobil berlampu menjadi pengalaman yang berbeda dan berkesan. Healing tipis di tengah kota, dengan suasana yang indah dan makanan yang benar-benar memuaskan.





Minggu, 04 Januari 2026

Kepulauan Seribu: Pulau Payung

Kalian tahu kalau di Jakarta ada banyak gugusan pulau indah dengan pantai berpasir putih dan laut biru toska yang memesona? Banyak orang mungkin masih mengira Jakarta hanya identik dengan gedung tinggi, kemacetan, dan hiruk pikuk kota. Padahal, di balik ramainya ibukota, tersimpan surga kecil yang siap menyambut siapa pun yang butuh rehat sejenak dari rutinitas. Tempat itu bernama Kepulauan Seribu.


Kepulauan Seribu merupakan bagian wilayah administratif DKI Jakarta yang terdiri dari puluhan pulau kecil dengan karakter dan keindahannya masing-masing. Gugusan pulau ini menawarkan suasana yang jauh berbeda dari wajah Jakarta yang kita kenal sehari-hari. Pantai-pantainya tenang, pasirnya putih lembut, dan lautnya berwarna biru toska yang jernih. Cocok banget buat healing, menenangkan pikiran, dan mengisi ulang energi yang terkuras oleh aktivitas harian.


Selama ini, banyak orang mengira wisata pantai di Jakarta ya cuma Pantai Ancol. Padahal, kalau dihitung-hitung, biaya ke Kepulauan Seribu justru bisa lebih ramah di kantong. Tiket masuk Ancol saat ini sekitar 35 ribu rupiah. Sementara itu, dengan merogoh kocek sekitar 44 ribu rupiah menggunakan kapal Dishub atau sekitar 75 ribu rupiah naik kapal feri tradisional, kalian sudah bisa menyebrang ke Kepulauan Seribu dan menikmati panorama alam yang jauh lebih alami. Dengan sedikit tambahan waktu perjalanan, pengalaman yang didapat terasa jauh lebih sepadan.


Salah satu pulau indah yang patut dilirik adalah Pulau Payung. Pulau ini bisa ditempuh sekitar satu sampai dua jam perjalanan laut dari Pelabuhan Muara Angke. Begitu tiba, suasana langsung terasa berbeda. Pantai dengan pasir putih membentang rapi, air laut berwarna toska terlihat bening, dan angin laut berembus pelan seolah menyambut kedatangan para tamu. Pulau Payung menawarkan ketenangan yang pas untuk siapa saja yang ingin menjauh sejenak dari bisingnya kota.


Di Pulau Payung, pilihan penginapan cukup beragam. Ada beberapa resort yang menawarkan fasilitas nyaman dengan pemandangan langsung ke laut. Selain itu, tersedia juga resto-resto pinggir pantai yang menyajikan menu makanan dengan cita rasa yang nggak kalah dari restoran di daratan Jakarta. Makan sambil ditemani suara ombak dan semilir angin laut jelas jadi pengalaman tersendiri yang sulit dilupakan.


Buat kalian yang punya budget pas-pasan, nggak perlu khawatir. Di sekitar pulau terdapat pemukiman warga yang juga menyediakan makanan dan minuman dengan harga yang lebih terjangkau. Dari nasi goreng, mie instan, sampai minuman segar, semua bisa dinikmati tanpa bikin kantong menjerit. Justru dari sinilah kita bisa merasakan sisi lain Pulau Payung yang lebih hangat dan sederhana.


Soal aktivitas, Pulau Payung nggak kalah seru. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan, mulai dari snorkeling untuk menikmati keindahan bawah laut, bermain banana boat, naik speedboat, hingga bersantai naik kano. Buat yang suka aktivitas santai, bisa juga bersepeda keliling pulau, berkuda di area tertentu, atau sekadar bermain pasir dan berenang di tepi pantai yang tenang dan jernih. Setiap sudut pulau seolah menawarkan cara berbeda untuk menikmati liburan.


Mau menginap atau hanya one day trip, semua pilihan ada di tangan kalian. Yang jelas, healing tipis di Pulau Payung selalu berhasil memberikan angin segar dan napas sejenak. Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Payung, membuktikan bahwa untuk menikmati keindahan alam, kita nggak perlu pergi jauh dari Jakarta. Kadang, surga itu justru ada lebih dekat dari yang kita kira.




Sabtu, 03 Januari 2026

A Slice of Happiness

A Slice of Happiness


Kebahagiaan sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang besar. Target yang tercapai, mimpi yang terwujud, atau hidup yang akhirnya terasa “beres”. Padahal, dalam keseharian yang penuh tuntutan, kebahagiaan justru lebih sering datang dalam bentuk yang sederhana. Kadang, ia hanya hadir sebagai sepotong makanan di tengah hari yang melelahkan.



Memang terdengar agak buru-buru jika mengatakan sepotong pizza bisa membuat hidup terasa lebih bahagia, atau sepotong kue mampu menambah rasa senang. Tapi jika kita jujur pada diri sendiri, ada momen tertentu ketika gigitan pertama terasa seperti tombol pause. Dunia sejenak melambat. Pikiran yang tadinya penuh mulai tenang. Dan tanpa sadar, sudut bibir ikut terangkat.



Kuliner bukan hanya soal mengenyangkan perut. Ia punya cara lembut untuk menyentuh emosi. Rasa gurih, manis, pedas, atau asam bekerja bukan hanya di lidah, tapi juga di otak. Ada hormon kebahagiaan yang dilepaskan, membuat tubuh merasa lebih nyaman, hati terasa lebih ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena kita diberi ruang kecil untuk bernapas.



Sepotong makanan sering menjadi teman di momen-momen yang tak selalu sempurna. Saat makan sendirian setelah hari yang panjang, saat merayakan hal kecil yang mungkin tak dianggap siapa pun, atau saat butuh penghiburan tanpa banyak kata. Di situ, makanan hadir tanpa menghakimi. Ia tak bertanya kenapa kita lelah, tak menuntut kita untuk kuat. Ia hanya ada, siap dinikmati.



Ada juga kenangan yang terselip di setiap rasa. Sepotong kue bisa membawa kita kembali ke ulang tahun masa kecil. Sepiring makanan rumahan mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang pernah membuat kita merasa aman. Aroma tertentu bahkan mampu menarik ingatan lama yang sudah lama kita simpan. Dalam satu gigitan, waktu bisa mundur, dan perasaan hangat kembali terasa.



Itulah mengapa setiap orang punya a slice of happiness versinya sendiri. Bagi sebagian orang, mungkin itu kopi hangat di pagi hari. Bagi yang lain, camilan favorit di pinggir jalan, atau makanan sederhana yang selalu berhasil menghibur setelah hari yang buruk. Tidak harus mahal, tidak perlu mewah. Yang penting, ia punya makna.



Hidup memang tidak selalu manis. Ada hari-hari yang terasa berat, ada cerita yang belum selesai, ada lelah yang tak sempat diceritakan. Tapi di antara semua itu, kita masih bisa memberi diri sendiri satu potong kebahagiaan. Sebuah jeda kecil, sebuah rasa yang menyenangkan, sebuah momen untuk berkata, “aku pantas merasa bahagia, meski sebentar.”



Dan mungkin, kebahagiaan memang seperti itu. Tidak selalu utuh, tidak selalu sempurna. Kadang ia hanya datang sebagai sepotong. Tapi dari sepotong itulah, kita bisa kembali melangkah.


Jumat, 02 Januari 2026

Hujan Bogor, Kopi Hangat, dan Percakapan yang Menenangkan


Pagi itu Bogor kembali setia dengan hujannya. Sejak matahari belum benar-benar naik, rintik turun perlahan, membungkus kota dengan udara dingin yang menenangkan. Liburan menjelang Natal membuat suasana terasa lebih santai, tidak terburu-buru. Aku dan seorang teman memutuskan pergi ke Summarecon Bogor, mencari tempat singgah untuk menghangatkan diri sekaligus menikmati waktu tanpa agenda.


Langkah kami berhenti di Maco JCO. Dari luar, tempat itu tampak terang dan ramah, kontras dengan langit abu-abu di luar. Begitu masuk, aroma kopi dan donat langsung menyapa, seperti undangan halus untuk duduk lebih lama. Kami memilih sudut yang menghadap jendela, tempat terbaik untuk memandang hujan sambil berbincang pelan.


Secangkir kopi latte datang lebih dulu, hangat dan menenangkan. Tak lama, donat-donat tersaji, sederhana tapi selalu punya cara sendiri untuk membuat hati ringan. Gigitan pertama terasa pas manis yang tidak berlebihan seolah cocok dengan suasana pagi yang tenang. Di antara uap kopi dan denting sendok, obrolan pun mengalir.


Kami berbicara tentang kehidupan, tentang hari-hari yang kadang terasa mudah, dan waktu-waktu lain yang menuntut lebih banyak sabar. Tentang rencana yang belum sepenuhnya tercapai, juga tentang lelah yang sering disimpan sendiri. Namun anehnya, tidak ada rasa berat. Justru ada kelegaan ketika kata-kata bisa keluar apa adanya, tanpa perlu dibungkus sempurna.


Di tengah percakapan itu, aku belajar satu hal penting: kadang kita tidak perlu banyak bicara, cukup mendengarkan dengan hati yang penuh syukur. Mendengarkan sambil menyadari bahwa Allah masih begitu sayang. Bahwa hingga hari ini, kita masih diberi kehidupan yang indah, tentram, dan damai meski dunia di luar sana terus bergerak cepat dan tak selalu ramah.

Hujan di luar jendela masih turun, tapi di dalam Maco JCO Summarecon Bogor, suasana terasa hangat. Ada rasa tenang yang tidak bisa dibeli, hanya bisa dirasakan. Dari kopi latte yang menenangkan, donat yang sederhana, hingga perbincangan yang jujur, semuanya menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk paling bersahaja.


Saat kami beranjak pergi, hujan belum juga reda. Namun langkahku terasa lebih ringan. Aku pulang membawa rasa syukur yang utuh bahwa di sela liburan, di sebuah sudut Bogor yang basah, Allah mempertemukan kehangatan, pertemanan, dan ketenangan dalam satu pagi yang sederhana namun bermakna.


Kamis, 01 Januari 2026

Kuliner Unik: Kerupuk Siram Tauco

Bogor memang nggak pernah kehabisan kejutan soal kuliner. Kota hujan ini selalu punya cara sederhana tapi berkesan untuk memanjakan lidah. Salah satu yang belakangan ramai jadi perbincangan adalah hadirnya area nongkrong baru di Summarecon Bogor, tepatnya di Graha Boulevard.


Graha Boulevard kini jadi magnet baru buat warga Bogor dan sekitarnya. Deretan tenant kuliner berjajar rapi, mulai dari menu sarapan ringan, makanan berat untuk makan siang, sampai pilihan santai untuk makan malam. Suasananya nyaman, tertata modern, dan cocok banget buat nongkrong bareng teman, sahabat, atau keluarga. Mau sekadar ngopi sore, kulineran, atau ngobrol panjang tanpa merasa tergesa—tempat ini pas.


Di antara banyaknya pilihan kuliner, ada satu yang unik dan langsung mencuri perhatian: kerupuk siram tauco di Bakso Bedjo. Lokasinya gampang ditemukan, persis dekat dengan toko roti dan donat favorit banyak orang, JCO Maco Cake and Bakery. Meski namanya Bakso Bedjo, jangan salah sangka. Di sini bukan cuma bakso yang jadi andalan, tapi juga satu menu sederhana yang justru terasa istimewa.


Biasanya, kerupuk identik dengan sambal kacang, saus cair, atau disiram kuah santan seperti yang sering kita temui di warung Padang. Tapi di Bakso Bedjo, kerupuk kuning disajikan dengan cara berbeda, disiram tauco. Jujur, ini pertama kalinya aku menemukan kombinasi seperti ini.


Kerupuk kuningnya renyah, ringan, dan gurih. Saat tauco hangat disiram di atasnya, tekstur crunchy itu berpadu dengan saus yang kental dan beraroma khas. Tauco sendiri punya rasa yang kompleks: gurih asin, sedikit manis, dengan sentuhan fermentasi yang dalam. Ada aroma kacang kedelai yang kuat, sedikit earthy, dan aftertaste yang bikin nagih. Bukan rasa yang agresif, tapi justru membumi seperti masakan rumahan tempo dulu.


Perpaduan ini bikin kerupuk siram tauco terasa sangat lokal. Bukan sekadar camilan, tapi seperti potongan cerita kuliner tradisional yang dihidupkan kembali dengan cara sederhana. Rasanya akrab, tapi tetap terasa baru. Setiap suapan menghadirkan kontras antara renyah kerupuk dan lembutnya tauco yang meresap perlahan.


Menariknya lagi, kerupuk siram tauco ini bisa jadi teman makan atau camilan santai sambil ngobrol. Cocok disantap kapan saja, entah itu pagi hari sebelum mulai aktivitas, atau sore menjelang malam sambil menikmati suasana Graha Boulevard.


Selain menu unik ini, Bakso Bedjo juga menyediakan aneka makanan lain seperti bakso, soto, dan menu rumahan yang mengenyangkan. Jadi kalau datang rame-rame, semua orang tetap punya banyak pilihan.




Kerupuk siram tauco mungkin terlihat sederhana, tapi justru di situlah keistimewaannya. Kuliner ini membuktikan bahwa rasa unik tak selalu harus mahal atau rumit. Kadang, cukup mengolah bahan sederhana dengan sentuhan kearifan lokal hasilnya bisa meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.


Secangkir Kopi Hitam

  Pagi itu, Surya Kencana belum sepenuhnya terjaga, tapi denyutnya sudah terasa. Di sebuah toko roti yang hangat dan bersih, aku duduk di de...